Musta’ribeen, Menyusup hingga Serbu Rumah Sakit Palestina

Internasional

Suara Samarinda – Kamis malam, 12 November 2015. Kesibukan di Rumah Sakit Al-Ahli di Hebron, Palestina berjalan seperti biasa. Suster dan tenaga perawat meracik obat untuk pasien. Ada juga yang sibuk memeriksa berkas rekam medik pasien.

Di salah satu lorong, terlihat seorang perempuan berjilbab yang terlihat hamil tengah didorong oleh beberapa orang pria dan perempuan. Seperti layaknya warga Palestina, si pria mengenakan kufiyyeh (syal khas Palestina) dan perempuan berjilbab lebar.

Tak ada yang aneh dari perilaku mereka. Hingga di satu titik lorong, tiba-tiba perempuan yang terlihat hamil itu meloncat dari kursi roda lalu mencabut senjata dari balik jubahnya. Rombongan pria yang semua mendorong kursi roda ikut mencabut senjata.

Dan. Dor..dor..dor. Mereka ternyata adalah Musta’ribeen atau mista’arvim, tentara khusus Israel yang disusupkan ke basis perjuangan warga Palestina. Ketenangan Rumah Sakit Al-Ahli di Hebron, Kamis malam itu tiba-tiba terusik. Begitulah salah satu cara Tentara Israel menyerang pejuang Palestina.

Musta’ribeen atau mista’arvim, tentara khusus Israel yang menyamar menjadi orang Arab dalam aksi warga Palestina terdiri dari 4 unit. Dua di antaranya tergabung dalam tentara Israel yakni Duvdevan yang bertugas di Tepi Barat dan Shamshon di Jalur Gaza.

Dua lainnya di bawah koordinasi polisi Israel yang bertugas di perbatasan dan Yerusalem. Dikutip dari middleeastmonitor.com, Pasukan unit khusus awalnya bertugas memberikan informasi untuk kepentingan Israel.

Namun menjelang pecahnya intifada pertama, unit khusus ini juga ditugaskan sebagai intel yang mengawasi dan menyusup ke basis demonstran Palestina. Pada 1986 tentara Israel membentuk Duvdevan. Unit ini didirikan dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi, menemukan, menangkap, atau membunuh warga atau demonstran Palestina yang dianggap sebagai teroris di Tepi Barat.

Tahun 1987 menurut laporan sebuah lembaga di Israel, Duvdevan mengumpulkan data-data aktivis Palestina yang layak untuk dibunuh.

Keberadaan Duvdevan terus dipertahankan. Setelah pecah intifada kedua tahun 2000, unit ini malah kian intensif melakukan operasi di wilayah Tepi Barat. Bahkan The Israel Democracy Institute melaporkan bahwa Duvdevan melakukan operasi setiap hari.

Data dari Palestine Human Rights Information Centre (PHRIC) selama 4 tahun sejak terjadinya intifada pertama ada 75 warga Palestian dibunuh oleh Duvdevan. Pada tahun 1991, PHRIC menyelidiki 29 kasus terbunuhnya warga Palestina oleh Duvdevan.

Hasilnya, PHRIC tidak menemukan bahwa ke-75 orang yang dibunuh tersebut terlibat dalam pertempuran dengan tentara Israel. Sebanyak 11 orang yang dibunuh memang terlibat dalam aksi demonstrasi menentang pendudukan Israel. Namun mereka sama sekali tak melakukan kekerasan.

“Dalam semua kasus, tidak ada peringatan yang diberikan untuk menangkap korban dahulu sebelum melakukan penembakan,” begitu laporan PHRIC seperti dikutip dari middleeastmonitor.com.

Setelah intifada 1 dan intifada 2 selesai, Tentara Israel tak lantas membubarkan tugas Musta’ribeen. Tahun 2008 pasukan ini menyamar sebagai masyarakat biasa dan melakukan pembunuhan terhadap empat warga Palestina di Bethlehem, Tepi Barat.

“Orang-orang ini adalah pejuang, tapi mereka tidak dalam situasi tempur saat itu. Mereka sedang duduk di dalam mobil, menunggu makan malam mereka. Pasukan khusus Israel melaju, menyamar sebagai warga sipil Palestina, dan melepaskan tembakan tanpa peringatan, “kata Jared Malsin, seorang wartawan dari kantor berita Ma’an yang telah bertemu keempat korban beberapa jam sebelum pembunuhan.

Tak hanya terhadap warga, unit tentara khusus Israel Musta’ribeen juga mengintimidasi wartawan. Tahun 1988 tiga wartawan dari Reuters dan Financial Times dengan menyembunyikan kartu pers meliput aktivitas tim penyelamat di Tepi Barat. Tiga tahun kemudian penyamaran mereka diketahui oleh Musta’ribeen yang menyamar sebagai warga Palestina. Tentara khusus Israel Musta’ribeen pun merampas rekaman mereka.

Lembaga pegiat HAM Al-Haq dalam salah satu laporannya menyebut bahwa kerja Musta’ribeen yang menyamar dalam pakaian sipil adalah perampokan dan kejahatan hukum internasional serius. Dalam aturan manual Israel tentang perang sendiri sudah disebutkan bahwa dilarang menyamar ke warga sipil non-kombatan.

(dtik/ss)