Gemmpar : Banjir Samarinda Bukan Hanya Karena Alam

Daerah Kaltim

Siswa SD sedang menyeberangi Jalan A Yani Samarinda yang tergenang banjir (ANTARA Kaltim/M.Ghofar)

Siswa SD sedang menyeberangi Jalan A Yani Samarinda yang tergenang banjir (ANTARA Kaltim/M.Ghofar)

Suara Samarinda Р Gerakan Merawat dan Menjaga Parit (Gemmpar) Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menilai banjir yang melanda sejumlah kawasan dalam empat hari terkahir, bukan semata-mata karena alam, namun juga karena drainase yang buruk.

“Hasil tinjauan tim Gemmpar, secara umum penyebab banjir saat ini tidak hanya karena hujan atau faktor alam, melainkan tidak optimalnya parit dan banyaknya rawa yang ditutup,” ujar Ketua Gemmpar Samarinda Khairil Marzuki Tanjung di Samarinda, Kamis.

Ia mencontohkan, di kawasan Jalan Pramuka misalnya, kawasan yang banyak dihuni oleh anak kos yang sebagian besar merupakan mahasiswa Universitas Mulawarman itu, dulunya jika hujan deras selalu banjir, bahkan bisa dibilang banjirnya cukup dalam dan lama.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, seiring gencaranya anggota Gemmpar bersama relawan aktif merwat parit seperti mengambil sumbatan parit dan gorong-gorong, kemudian mengangkat sedimentasi, maka parit menjadi dalam dan airnya lancar mengalir ke Sungai Karang Mumus.

Kini, katanya, meskipun hujan deras hingga beberapa jam, namun kawasan Pramuka hanya tergenang air sebatas mata kaki, itu pun cepat surut, tidak seperti sebelumnya yang genangan airnya mencapai pinggang orang dewasa.

Ini menandakan bahwa parit merupakan sarana vital yang harus dijaga agar tidak banjir. Begitu pula dengan masyarakat, ia minta jangan membiasakan membuang sampah ke dalam parit.

“Musim hujan dalam beberapa hari ini intensitasnya tinggi, namun di Pramuka tidak banjir dalam. Banjir hanya semata kaki dan itu pun tidak lama karena airnya lancar mengalir. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kawasan lain yang banjirnya cukup dalam dan lama,” katanya.

Dari kasus ini, kata Markus, panggilannya, seharusnya pemerintah belajar bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah normalisasi saluran air seperti air dan gorong-gorong, termasuk normalisasi sungai.

Menurutnya, yang dibutuhkan bukan proyek pembangunan fisik gorong-gorong dan parit, karena semua fasilitas itu sudah ada, tinggal bagaimana pemerintah merawat fasilitas itu dan mencegak sumber penyebab banjir, seperti sumbatan oleh sampah dan pendangkalan oleh sedimen.

“Dalam setiap banjir, pemerintah selalu menyalahkan alam, seolah-olah kejadian ini baru sekali terjadi. Cara penanganan dengan membangun fasilitas parit tidak dibutuhkan saat ini, apalagi anggaran juga terbatas, namun yang tepat adalah normalisasi parit seperti di Pramuka yang terbukti efektif menekan banjir. Ingat! Yang dibutuhkan adalah merawat, bukan membangun,” ujarnya.(Ant Kaltim)