Taman Wisata Mangrove Bakal Dilengkapi Menara Pantau

Daerah Kaltim
Kunjungan jurnalistik, di Wisata Mangrove Mentawir Kabupaten Penajam Paser Utara (Rif)

Suara Samarinda- Taman Wisata Mangrove yang dikembangkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tiram Tambun, Kelurahan Mentawir, Kabupaten Penajam Paser Utara disebut akan semakin menarik ke depannya.

Pokdarwis bakal melengkapi objek wisata alam ini dengan Menara Pantau yang dapat melihat seluruh kawasan hutan mangrove menggunakan teropong.

“Kita akan bangun Menara Pantau di bukit kawasan hutan mangrove. Semoga ini menjadi daya tarik baru objek wisata andalan masyarakat RT 1 dan RT 2 Kelurahan Mentawir ini,” ujar Ketua Pokdarwis Tiram Tambun, Lamale saat mendampingi para jurnalis yang melakukan kunjungan jurnalistik, di Wisata Mangrove Mentawir, Sabtu (26/10).

Sebagai penunjang, mereka terlebih dahulu akan membangun jembatan kayu sepanjang 400 meter melanjutkan jembatan yang sudah ada sepanjang 500 meter dengan lima gazebo.

Jembatan baru tersebut sebagai penghubung ke bukit lokasi Menara Pantau maupun muara laut. Dia berharap rencana tersebut bisa terealisasi baik dilakukan secara mandiri maupun didukung program kepedulian perusahaan (CSR) PT Inhutani dan bantuan pemerintah.

Kondisi dukungan pengembangannya masih didapat dari PT Inhutani sebagai perusahaan pemilik konsesi lahan kawasan hutan. Sementara pemerintah belum memberikan dukungan untuk pengembangan usaha wisata masyarakat tersebut.

Padahal hutan mangrove yang dikelola pokdarwis seluas 500 hektare dari 2.000 ribu hektare total luasan hutan mangrove milik PT Inhutani tersebut sangat menjanjikan.

Awal dibuka saja pada 2016 selama enam hari saat Hari Raya Idul Fitri kunjungan wisatawan lokal tembus mencapai 1.700 pengunjung. Meskipun mengakibatkan jembatan nonpemanen yang dibuat dari kayu sungkai tersebut rusak sebelum akhirnya dibuat permanen menggunakan kayu ulin.

Sekarang tingkat kunjungan juga tetap ramai pada hari-hari libur seperti akhir pekan, lebaran, dan tahun baru. Dengan dominasi pengunjung masyarakat sekitar maupun pelajar dan mahasiswa dari luar daerah yang ingin melakukan kunjungan belajar maupun penelitian.

Misalnya penelitian terkait budidaya mangrove dan pengembangbiakan udang, kepiting, dan ikan di hutan mangrove.

Selain itu, hutan mangrove ini menjadi sumber penghidupan masyarakat untuk mencari ikan, kepiting, dan udang bagi nelayan.

Dan ibu rumah tangga dalam mengolah buah mangrove menjadi sirup dan dodol, serta daunnya sebagai kosmetik untuk pupur basah.

“Artinya jika potensinya semakin besar maka masyarakat dua RT ini akan semakin sejahtera,” katanya.

Sedangkan potensi wisata yang dijual selain hutan mangrove juga terdapat Ikan Pesut, Bekantan, dan monyet jika beruntung. Seperti Pesut yang hanya muncul pagi-sampai siang di muara sungai maupun bekantan yang hanya bisa dijumpai pagi hari. (Rif)