Jumlah penduduk Kaltim akan bertambah tiga kali lipat

Daerah DPRD Kaltim Kaltim
Anggota DPRD Kaltim Rusman Yaqub (kiri) Ketua IPADI Kaltim Prof Ida Raochaida (tengah) dan Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Eli Kusnaeli (kanan)

Suara Samarinda – Anggota DPRD Kaltim, Rusman Yaqub  mengatakan pemindahan ibu kota negara ke Provinsi Kalimantan Timur, maka nantinya jumlah penduduk Kaltim akan bertambah tiga kali lipat  dengan kondisi penduduk sekarang sekitar, 3,5 juta jiwa.

“Penduduk Kaltim saat ini sekitar 3,5 juta jiwa dengan pindahnya ibu kota negara maka pertambahan penduduk akan meningkat drastis menjadi tiga kali lipat ,” katanya di Samarinda.

Ia mengatakan pemindahan ibu kota negara bukan hanya pemindahan pusat pemerintahan,  infrastruktur  tetapi juga pemindahan orang atau penduduk , sehingga Kaltim harus benar-benar mempersiapkan diri  terutama SDM (Sumber Daya Manusia).

Menurutnya yang paling penting kedepan Kaltim dalam menyusun program pembangunan harus berdasarkan data kependudukan, karena selama ini tidak pernah dilakukan sehingga lepas sasaran dan dia  berani mempertangungjawabkan pernyataan tersebut.

“Saya  berani bertanggung jawab atas pernyataan saya bahwa selama ini perencanaan  pembangunan tidak menggunakan data kependudukan, padahal BKKBN Kaltim telah menyediakan data-data kependudukan, namun tidak di gubris selama ini,” katanya.

Rusman juga optimis pemindahan ibu kota negara ke Kaltim penduduknya mampu bersaing dengan para pendatang sepanjang dilakukan persiapan  dari sekarang, artinya tidak sebatas retorika,statemen politik, narasi pidato.

Ia berharap semua berpikir untuk melahirkan program konkrit,sarana dan prasarana pendidikan harus diperbaiki serta melibatkan pihak swasta, sehingga  SDM Kaltim mampu bersaing dengan para pendatang yang tentunya memiliki kemampuan dan keahlian.

                 

Hal senada juga diungkapkan Ketua Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Provinsi Kalimantan Timur Prof  Dr.Eny Rochaida bahwa isu kependudukan memang tidak begitu menarik jika dibandingkan dengan isu ekonomi, sosial, politik  dan infrastruktur terkait pemindahan ibu kota  negara ke  Kaltim.

Padahal katanya akan berpengaruh besar terhadap  kependudukan yakni akan merubah posisi  secara demografi  berupa  jumlah, persebaran dan komposisi dengan adanya pemindahan  ibu kota negara ke Kaltim.

“Pemindahan ibu kota Negara nantinya  akan terjadi migrasi, perpindahan penduduk ke Kaltim, terutama usia produktif. Disisi lain Provinsi Kaltim jumlah angka pengangguran relatif  tinggi, oleh karena itu harus diantisipasi dengan mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM),” katanya.

Eny Rochaida menambahkan dengan terjadinya  penambahan penduduk  dalam waktu singkat maka konsekuensinya harus dipersiapkan  semua kebutuhan seperti, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan serta transportasi.

Kepala Perwakilan Provinsi Kaltim, Eli Kusnaeli menambahkan perpindahan ibu kota negara telah dipersiapkan pemerintah pusat seperti  infrastruktur, lingkungan, perumahan, air bersih serta keamanan sudah dipersiapkan.

“Saat ini isu pemindahan ibu kota negara hiruk pikuknya  terkait   lokas dan infrastruktur namun masalah dampak-dampak kependudukan belum tersentuh,” katanya.

Menurutnya perpindahan ibu kota  bukan hanya pemindahan pusat pemerintahan, gedung, tetapi juga dibarengi dengan perpindahan orang dengan jumlah cukup banyak. Misalnya seorang  PNS tentunya  akan bersama keluarganya, belum lagi para pencari kerja.

Eli  berharap  pemindahan ibu kota negara tidak meninggalkan konsep pembangunan berwawasan kependudukan .