Gus Mus dan Mbah Moen Ternyata Berasal dari Lingkungan Keluarga Yang Sama

Nasional
Mbah Moen (kiri) dan Gus Mus (kanan) dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 (Foto: Dokumentasi NU Online)

Suara Samarinda – Mbah Moen atau kyai Maimoen zubair dan Gus Mus sama-sama berlatar belakang pesantren. Mereka berasal dari daerah yang sama, Rembang. Keduanya barangkali kini merupakan tokoh utama di lingkungan pesantren dan masyarakat Nahdliyyin saat ini. Selain berasal dari daerah yang sama, sebetulnya mereka juga berasal dari keluarga yang sama, keluarga pesantren Sarang, Rembang.

Ibu Gus Mus, Nyai Ma’rufah merupakan putri dari kiai Cholil Harun seorang ulama yang berasal dari keluarga pesantren Sarang. Bahkan sebetulnya bertemu dalam satu jalur silsilah yang sama alias masih saudara.

Mereka sama-sama berlatar pesantren, meski kemudian Gus Mus juga pernah kuliah, tepatnya di universitas Al- Azhar, Mesir. Gus memulai pendidikannya kepada ayahnya sendiri, kiai Bisri Mustofa, pernah mondok di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan selanjutnya di Krapyak, Yogyakarta sebelum akhirnya berngkat ke Mesir.

Gus Mus bersama Gus Dur kemudian banyak aktif di dunia kesustraan dan budaya, di samping tentu saja di NU. Gus Mus juga banyak bersentuhan dengan pengetahuan-pengetahuan modern. Sedangkan mbah Moen bisa dikatakan sebagai seorang santri dan kyai tulen. Sejak kecil belajar di pesantren kepada ayahnya, kiai Zubeir. Kemudian ke Lirboyo, Kediri.

Pernah juga ke Gresik di bawah asuhan kiai Fakih Mas Kumambang. Mbah Moen juga pernah belajar di Mekkah cukup lama, kepada ulama-ulama tersoroh semisal Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, seorang ulama terkemuka dari kalangan mazhab Maliki, syekh Yasin al-Fadani, seorang ulama besar di Mekkah yang berasal dari Padang, Indonesia, dan beberapa ulama berpengaruh di sana.

Mereka terkenal dan berpengaruh di dunianya masing-masing. Gus Mus terkenal sebagai sastrawan, budayawan dan pemikir muslim. Sering menulis di koran dan juga gemar melukis.

Pembacanya pun lebih banyak berasal dari kalangan santri terpelajar atau santri perkotaan, meski Gus Mus juga mengasuh pondok pesantren. Gus Mus menulis karya-karya dalam bahasa Indonesia, sehingga memungkinkan lebih banyak dibaca oleh masyarakat secara luas. Sedangkan mbah Moen, lebih banyak di pesantren mengajar dan mendidik santri, dan mengisi ceramah ke daerah-daerah.

Di samping juga mbah Moen aktif di dunia politik. Namun tampaknya aktifitasnya di dunia politik, tak lebih dari upaya untuk memperjuangkan aspirasi umat. Mbah Moen lebih banyak di pesantren.

Tapi jangan salah, santri mbah Moen berjumlah ribuan, berasal dari berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Papua. Tak sedikit dari mereka yang merupakan putra dari kiai-kiai dari pesantren besar yang kemudian juga menjadi pengasuh pesantren dengan ribuan santri. Tidak sedikit pula alumninya yang kelak menjadi mulai lurah hingga bupati, mulai anggota DPR tingkat kabupaten hingga tingkat pusat.

Tak sedikit pula santri jadi pebisnis sukses, pejabat, akademisi hingga aktifis sosial. Mbah Moen sebetulnya juga sering menulis, karyanya cukup banyak, namun karena mungkin semuanya ditulis berbahasa Arab, jadinya hanya para santri yang mengetahuinya. Di antara karya mbah Moen yang baca dibaca adalah Tarjim Mashyikh al-Ma’hid al-Diniyyah bi Sarang al-Qudam’ dan al-‘Ulam’ al-Mujaddidn yang memabahas tentang pembaharuan yang dilakukan oleh para ulama.

Gus Mus mungkin lebih terkenal dan lebih dulu muncul mewarnai publik. Sedangkan mbah Moen mungkin lebih belakangan. Setidaknya mungkin baru sekitar 5 tahun belakangan mbah Moen dikenal publik secara luas. Namun jangan salah, di lingkungan pesantren mungkin pengaruh mbah Moen lebih besar. Mbah Moen juga sering dikunjungi oleh para ulama dari berbagai negara.

Untuk menyebut beberapa saja misalnya Syekh Romadhon al-Bhuti, seorang ulama terkemuka dari Suriah, Syekh Taisir dan syekh Rojab Dib dari Uni Emirat Arab, syekh Yusri dari Mesir dan lain sebagainya. Belakangan mantan rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Prof. Dr. Ibrahim Salah as-Sayyid Sulayman al-Hudhud mengunjungi mbah Moen pada 19 Desember lalu. Ada pemandangan menarik ketika syech Ibrahim bertemu mbah Moen. Syech Ibrahim mencium tangan mbah Moen dengan penuh takzhim.

Ada sebuah cerita yang menunjukkan kerendah hati keduanya. Pada saat Muktamar NU ke-33 di Jombang pada awal Agustus 2015. Mbah Moen yang merupakan sesepuh di kalangan NU ketika itu justru memilih duduk di barisan kedua, di barisan pertama diisi oleh para pemimpin NU, presiden dan para pejabat.

Gus Mus, yang ketika itu menjabat sebagai Rais Am –menggantikan kyai Sahal Mahfud yang meninggal pada 2014– pun mempersilakan Mbah Moen agar duduk di barisan pertama. Namun mbah Moen tidak menghendaiknya.

Sebagian besar peserta Muktamar sebetulnya menginginkan agar Gus Mus dipilih sebagai Rais Am, pemimpin tertinggi dalam hierarki kepemimpinan NU. Demikian pula mbah Moen. Jika mau maju jelas Gus Mus merupakan kandidat yang terkuat.

Apalagi didukung mbah Moen. Namun Gus Mus tetap bersikukuh tidak mau. Tidak juga memberi alasan yang jelas. Akhirnya karena Gus Mus tidak bersedia, dipilihlah kiai Ma’ruf Amin. Namun hingga kini banyak peserta muktamar dan juga warga Nahdliyyin banyak yang bertanya-tanya kenapa Gus Mus tidak mau maju. Sayang juga Gus Mus tidak mau memberikan alasannya.

Baru belakangan ketika mengisi stadium general atau kuliah umum di pesantren Al-Anwar 3 pada akhir 2018 Gus Mus memberi tahu alasannya, ketika Dr. Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur, salah satu putera kiai Maimoen) menanyakan alasannya kenapa tidak bersedia menjabat sebagai Rais Am PBNU. “Karena ada kiai Maimoen. Ada orang yang lebih tua, lebih alim…bisa celaka saya nanti…”. Jawab Gus Mus.

Dengan mimik serius. Terjawab sudah rasa penasaran warga Nahdliyyin. Gus Mus tidak bersedia jadi Rais Am PBNU karena satu alasan: ada seorang yang dianggapnya lebih alim, yaitu kiai Maimoen. Padahal Gus Mus secara hierarki keluarga di pesantren Sarang sebetulnya lebih tua.

Secara nasab keluarga Gus Mus adalah paman kiai Maimoen. Sebaliknya kiai Maimoen sejak awal dalam beberapa kesempatan menyebut Gus Mus sebagai pamannya. Bahkan kiai Maimoen disebut sering menekankan kepada putra-putra dan santrinya untuk menghormati Gus Mus karena sebagai pamannya. Demikianlah contoh bagaimana dua orang tokoh saling merendahkan hati satu sama lain. Padahal sama-sama tokoh berpengaruh.

Contoh lain ketawadhdhu’an (kerendahan hati) Kiai Maemoen misalnya ketika beberapa waktu lalu syech Dr. Abdun Nashir, dari Maliabar mengunjunginya, kiai Maemoen dengan rendah hati mengatakan beberapa hal: (bagain ini saya kutip dari postingan Nanal Ainal Fauz, 6 Februari 2019).

Sumber: https://www.kompasiana.com/ayahabil/5c5c3c79aeebe1195d414ce2/gus-mus-mbah-moen-rais-am-dan-kerendahan-hati-seorang-ulama