Gencarkan sosialisasi program pemberantasan stunting

Daerah DPRD Kaltim Kaltim
Ilustrasi- Perkembangan dan petumbuhan anak perlu memperhatikan asupan gizinya. (Indobarometer/Ist)

Suara Samarinda -Legislator DPRD Provinsi Kaltim Siti Rizky Amalia meminta kepada pihak terkait untuk menggencarkan program sosialisasi pencegahan stunting (kekerdilan anak) akibat kekurangan  asupan gizi.

Kondisi stunting atau anak tumbuh kerdil akibat kurang asupan gizi terjadi bukan hanya karena faktor kemiskinan, namun bisa juga karena salah pola asuh anak dari orang tua.

Ia mengatakan pola makan empat sehat lima sempurna bukanlagi konsep yang dapat dijadikan acuan, sebab penelitian bidang gizi telah mengembangkan konsep pengetahuan baru yaitu gizi seimbang.

“Beberapa kasus stunting yang berhasil diidentifikasi, disebabkan karena salah pola asuh orang tua, makanan yang harusnya dikonsumsi orang dewasa diberikan kepada anak,” katanya.

Siti Rizky menjelaskan pemahaman tentang variasi pilihan menu makanan, seperti lauk, sayur, penggunaan gula dan garam serta minyak goreng dalam sehari dan kebutuhan air putih bagi tubuh minimal delapan gelas perhari serta olahraga.

Dia berharap kepada instansi terkait dan pihak-pihak lainnya terus memberikan pemahaman kepada orang tua maupun ibu hamil untuk menjaga pola asuh anak, serta menjaga kesehatan lingkungan.

“Anak-anak, termasuk bayi yang masih dalam kandungan, harus diberikan asupan gizi atau diberikan makanan yang bergizi, sehingga anak-anak dapat tumbuh normal,” katanya.

Politikus  dari PPP itu terus  mendorong pemerintah dalam membantu menggencarkan sosialisasi program pencegahan stunting.  Menurutnya kesuksesan program tersebut juga bagian dari kepedulian orang tua dalam pola pikir dan pola asuh terhadap anak.

                                     

Setidaknya katanya dimulai dari pengenalan  ciri-ciri stunting dengan ciri tubuh pendek, merupakan gejala yang tidak boleh diremehkan, selain itu dalam pemberian asupan gizi terhadap anak tidak hanya sekedar asal kenyang tanpa memperhatikan variasi menu.

Lanjut Siti Rizky, kekurangan gizi menyebabkan anak gagal dalam tumbuh kembang seperti pertumbuhan otak dan perkembangan koginitif yang rendah.

Ia mengimbau kepada pihak terkait untuk mensosialisasikan masalah stunting misalnya memberikan pengenalan  atau diselipkan saat pemberian edukasi kepada calon pasangan yang akan menikah maupun pasangan muda yang baru saja menikah.

“Kami mendukung program pemerintah pusat melalui Kementerian kesehatan dalam Renstra 2020-2024 yang memasukkan materi stunting dalam pembahasan penting,” katanya.

Jadi katanya, hilangkan pemahaman bahwa makan asal kenyang, apalagi bagi ibu hamil dan bayi hingga usia 2 tahun kemudian dilanjutkan dengan pola makan yang tetap memperhatikan unsur gizi.(*)